Partial Fulfillment: Arti, Fungsi, Penyebab, Dampak & Tips Optimalisasi
- Kevin Ramadhani

- 7 jam yang lalu
- 4 menit membaca
Dalam proses manajemen inventory, setiap pesanan konsumen harus dapat dipenuhi secara lengkap dan tepat waktu. Namun, kenyataannya, terdapat beberapa kondisi tertentu seperti keterbatasan stok, lonjakan permintaan, atau kendala operasional, yang membuat perusahaan kerap menghadapi situasi Partial Fulfillment. Jika tidak dikelola dengan baik, Partial Fulfillment dapat berdampak pada kepuasan konsumen dan efisiensi manajemen inventori.

Arti Partial Fulfillment dalam Manajemen Inventori
Partial Fulfillment adalah kondisi ketika pesanan yang diterima perusahaan hanya dapat dipenuhi sebagian dari total kuantitas atau item yang diminta. Artinya, tidak seluruh barang dalam satu order dikirim sekaligus, melainkan hanya item yang tersedia di gudang pada saat itu.
Dalam proses manajemen inventori, partial fulfillment sering menjadi solusi sementara agar proses pengiriman tetap berjalan tanpa harus menunggu ketersediaan stok lengkap. Namun, jika proses pengelolaan tidak diperbaiki, melakukan partial fulfillment secara terus menerus justru dapat menurunkan tingkat kepuasan konsumen.
Fungsi Partial Fulfillment dalam Manajemen Inventori
Meskipun terlihat seperti proses yang kurang ideal, partial fulfillment memiliki peran penting dalam manajemen inventori, di antaranya seperti:
1. Menjaga Alur Pengiriman Tetap Berjalan
Dengan Partial Fulfillment, perusahaan dapat tetap mengirim sebagian barang tanpa menunda seluruh pesanan, sehingga lead time pengiriman dapat ditekan.
2. Mengurangi Penumpukan Backorder
Partial Fulfillment membantu mengurangi jumlah pesanan tertunda atau backorder dan menjaga arus keluar barang dari gudang tetap stabil.
3. Meningkatkan Fleksibilitas Manajemen Inventori
Perusahaan dapat menyesuaikan pengiriman dalam manajemen inventori dengan kondisi stok dan kapasitas operasional yang tersedia untuk memenuhi sebagian dari pesanan konsumen.
4. Upaya Meningkatkan Layanan Konsumen
Dalam beberapa jenis bisnis, konsumen cenderung memilih menerima sebagian barang lebih cepat daripada menunggu pesanan lengkap dalam waktu yang lama atau tidak menentu.
Penyebab Partial Fulfillment dilakukan dalam Manajemen Inventori
Dalam manajemen inventori, proses Partial Fulfillment dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut:
1. Ketersediaan Stok Tidak Mencukupi
Partial Fulfillment sering dilakukan ketika jumlah stok yang tersedia di gudang tidak mampu memenuhi total permintaan dalam satu pesanan, terutama pada SKU yang memiliki perputaran tinggi.
2. Perbedaan Waktu Replenishment Antar Stok
Setiap produk memiliki lead time pengadaan yang berbeda. Ketika sebagian barang sudah tersedia dan sebagian lainnya masih dalam proses replenishment, perusahaan terpaksa menerapkan Partial Fulfillment untuk memenuhi pesanan.
3. Adanya Lonjakan Permintaan
Peningkatan permintaan yang terjadi mendadak, seperti saat promo atau musim puncak, dapat menyebabkan stok cepat habis dan mengharuskan perusahaan untuk melakukan Partial Fulfillment.
4. Perencanaan Persediaan yang Tidak Akurat
Forecasting yang tidak sesuai dengan tingkat permintaan membuat jumlah stok menjadi tidak seimbang, sehingga pemenuhan pesanan tidak dapat dilakukan secara penuh dan perusahaan perlu melakukan Partial Fulfillment.
5. Kendala pada Proses Manajemen Inventori
Hambatan pada proses manajemen inventori, baik pada tahap picking, packing, atau outbound, juga dapat menyebabkan perusahaan tidak dapat melakukan pemenuhan pesanan secara lengkap.
Dampak dari Partial Fulfillment bagi Manajemen Inventori
Jika perusahaan terus menerus melakukan Partial Fulfillment, maka akan ada beberapa dampak yang mempengaruhi manajemen inventori, seperti:
1. Peningkatan Biaya Operasional
Partial Fulfillment dapat menyebabkan biaya tambahan, terutama pada biaya pengiriman, biaya penanganan barang, dan biaya saat proses replenishment berlangsung.
2. Proses Pengelolaan Pesanan lebih Kompleks
Pesanan yang terbagi menjadi beberapa pengiriman meningkatkan akan meningkatkan kompleksitas proses pemenuhan pesanan dan mempengaruhi kelancaran manajemen inventori.
3. Resiko Kesalahan Proses
Semakin banyak tahap dalam menjalankan proses pemenuhan pesanan, semakin besar resiko kesalahan, baik karena salah picking, duplikasi pengiriman, atau data pesanan yang tidak sinkron.
4. Penurunan Kepuasan Konsumen
Partial Fulfillment yang dilakukan terus menerus menandakan bahwa perusahaan menghadapi kendala pada persediaan. Hal ini tentu dapat mempengaruhi kepuasan konsumen karena menerima pesanan tidak lengkap.
5. Beban Tambahan pada Customer Service
Partial Fulfillment sering membuat konsumen kebingungan dan memicu berbagai pertanyaan dan keluhan. Hal ini tentu akan meningkatkan beban kerja dari bagian customer service perusahaan.
Tips Optimalisasi Partial Fulfillment dengan WMS
Untuk dapat mengelola Partial Fulfillment atau menghindari terjadinya pemenuhan pesanan secara parsial, perusahaan dapat memanfaatkan teknologi, seperti WMS. Teknologi ini memiliki beberapa peran penting dalam mengoptimalkan Partial Fulfillment, seperti:
1. Visibilitas Stok Real-Time
WMS dapat menyediakan informasi terkait jumlah dan kondisi stok secara akurat dan real-time, sehingga keputusan Partial Fulfillment dapat dilakukan berdasarkan data yang valid.
2. Pengelolaan Partial Fulfillment Otomatis
WMS mampu memisahkan pesanan yang diterima menjadi fulfilled dan unfulfilled secara sistematis, termasuk mencatat sisa pesanan dan jenis barang yang belum maupun sudah terkirim, menghindari terjadinya kesalahan saat pengiriman.
3. Prioritas dan Alokasi Stok yang Lebih Tepat
Dengan menggunakan WMS, perusahaan dapat memprioritaskan pesanan tertentu berdasarkan produk, jenis konsumen, atau urgensi pengiriman.
4. Pelacakan Status Pesanan
Setiap tahap pemenuhan pesanan, baik yang sudah terkirim maupun yang tertunda, termasuk Partial Fulfillment, dapat dipantau dengan lengkap dan real-time melalui WMS.
5. Integrasi dengan Sistem Lain
WMS dapat dihubungkan dengan sistem lain, seperti ERP atau POS untuk memastikan data pesanan, stok, pengiriman dan proses pemenuhan pesanan selalu sinkron dan akurat.
Kelola Partial Fulfillment dengan Tepat Melalui WMS Prieds
Partial Fulfillment merupakan bagian dari manajemen inventori, terutama dalam kondisi stok menipis dan permintaan yang dinamis. Meskipun berpotensi menimbulkan tantangan, penerapan Partial Fulfillment dapat menjadi solusi strategis jika dikelola dengan baik.
Strategi pengelolaan yang tepat, serta dukungan Warehouse Management System (WMS), perusahaan dapat mengelola Partial Fulfillment secara lebih akurat, terukur dan efisien. Hal ini juga dapat membantu meningkatkan kepuasan konsumen dan performa manajemen inventori.
Sebagai penyedia WMS, Prieds menawarkan perangkat yang dirancang untuk membantu perusahaan dalam mengelola Partial Fulfillment dalam manajemen inventori. Sistem ini mendukung pencatatan stok yang akurat, pelacakan barang secara real-time, hingga memastikan seluruh proses pemenuhan pesanan terdata dengan lengkap, termasuk pesanan yang dipenuhi secara lengkap ataupun parsial.
WMS PriedsĀ juga dapat diintegrasikan dengan RFID, sehingga memberikan perusahaan fleksibilitas dan kemudahan untuk mengelola Partial Fulfillment dalam manajemen inventori. KonsultasiĀ dengan tim ahli Prieds untuk mengetahui solusi software yang tepat bagi bisnis Anda.





