• Gabriel C Sudibyo

Strategi Bisnis: Plus Minus Tren Viral?

Akhir-akhir ini viralnya kejadian, adegan film, atau makanan menjadi tolok ukur kesuksesan produk tersebut. Di zaman serba internet sekarang, virality atau tingkat keviralan menjadi salah satu cara untuk mempopularitaskan barang dagangan. Simak yuk apa saja yang sales dan exposure-nya bertambah karena “diviralkan” oleh UMKM dan netizen kita.


Strategi Kewirausahaan dari Tren Viral 2021-2022

Salah satu contoh strategi bisnis yang dimulai dari tren dan bertahan sampai sekarang adalah booming Thai tea, bobba, dan kedai kopi kekinian. Banyak gerai membuka usaha jenis minuman ini, dari usaha kecil hingga banyak artis dan influencer berlomba menawarkan varian minuman dengan harga dan versi mereka. Tidak sama halnya dengan usaha minuman yang hingga kini masih menjamur, tren viral kadang memberikan boost temporer singkat yang berefek ganda: mempopulerkan dan mendongkrak sales saat masanya dan surut seketika tren sudah berakhir.


Pada awal pandemi, internet dihebohkan dengan challenge netizen untuk mengisi waktu luang mereka selama #DiRumahAja. Challenge ini berujung pada dimasukkannya menu Dalgona coffee ke banyak line up menu kafe dan restoran. Selain Dalgona, ada juga tren Croffle, pastry asal Perancis yang populer di Korea Selatan, yang mendadak menjadi kudapan favorit anak muda. Seperti halnya thai tea, croffle dengan segera direspon oleh bisnis kecil hingga menengah dengan munculnya gerai yang secara khusus menjual satu makanan ini saja. #DiRumahAja juga menjadi hashtag tren yang sering dipakai sebagai strategi jualan online, dari bisnis besar hingga skala kecil.


Tidak terbatas pada konten viral bentuk konsumsi saja, tren viral ini juga muncul dalam IP (Intellectual Property) lain-lain seperti drama, film, atau kejadian yang tidak biasa. Misalnya demam Squid Game yang muncul di pertengahan tahun 2021 sukses diadaptasi menjadi tema event dan promosi berbagai jenis usaha. Munculnya kopi Dalgona ke permukaan dan diadopsi ke banyak tempat makan ternama, bagaimana banyak tempat berlomba memasukkan tema Squid Game ke dalam usaha mereka, kedua hal ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat untuk “mencoba yang viral” sangat tinggi. Ke-kepo-an masyarakat kita pada apapun yang viral semakin dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang kini ikut nonton Layangan Putus ataupun membuka akun di OpenSea akibat #GhozaliEveryday yang populer di kalangan netizen. Hal-hal ini menjadi dasar pertimbangan bahwa tren dapat mendongkrak sales dan bisa dimanfaatkan bagi Anda yang bergerak di bisnis retail dan F&B.


Cara Mempertahankan Usaha dalam Menghadapi Persaingan

Berbeda dengan thai tea & bobba boom, tidak ada yang berekspektasi Dalgona dan Croffle dapat mempertahankan momentumnya. Seperti Squid Game yang tiba-tiba datang seperti banjir dan memenuhi pasar, tren ini memaksa orang untuk mengetahui (mendongkrak brand awareness) dengan nilai yang mahal: kejenuhan pasar. Inilah yang perlu kita perhatikan sebagai pelaku bisnis yang hendak memasukkan tren viral ke line up produk, viral item sangat bergantung pada timing, waktu, dan situasi. Popularitas sebuah produk bagaikan pedang bermata dua:

1. semakin populer maka semakin banyak orang yang mencari, berarti semakin banyak demand atau penjualan yang bisa dilakukan

2. semakin banyak orang mencari, maka semakin banyak kompetitor bermunculan yang membuat barang kehilangan eksklusivitasnya, berarti barang tersebut akan segera surut seketika banyak orang telah mencoba.


… Kalau begitu apakah semua yang viral ini cuma seumur jagung dan tidak perlu kita jadikan ide bisnis?


Jadikan Tren Viral sebagai Pintu Masuk ke Produk & Brand Bisnis

Dengan promosi di media sosial dan kebanyakan bisnis kini mengakomodasikan iklan melalui internet, tren dan kejadian viral bisa menjadi entry point yang bagus untuk calon konsumen kita yang selama ini belum pernah terjangkau. Meskipun viral item tidak dapat dijadikan andalan penjualan karena timing dan popularitasnya yang sangat fluktuatif, kita bisa memanfaatkannya untuk memperkenalkan keberadaan usaha kita pada publik.


Tren-tren semacam ini terbukti menjadi suntikan motivasi dan inspirasi munculnya bisnis baru di Indonesia. Meskipun tren ini menjadi ladang basah untuk inovasi dan memasukkan menu baru ke jajaran produk Anda, kita juga harus pandai-pandai pilah pilih mana yang kita coba atau cukup manfaatkan hype-nya. Seperti misalnya #NewNormal, ada berapa banyak usaha yang kini mengusung nama ini sebagai bagian dari produknya (padahal barangnya sama saja)?


Tidak berarti hal-hal viral ini tidak bersifat positif secara jangka panjang. Dengan promosi di media sosial dan kebanyakan bisnis kini mengakomodasikan iklan melalui internet, tren dan kejadian viral bisa menjadi entry point yang bagus untuk calon konsumen kita yang selama ini belum pernah terjangkau. Meskipun viral item tidak dapat dijadikan andalan penjualan karena timing dan popularitasnya yang sangat fluktuatif, kita bisa memanfaatkan topik viral sebagai jembatan yang bagus untuk mengenalkan produk tanpa banyak biaya iklan. Pada akhirnya, hal viral hanyalah sebuah momentum yang meroket, bagaimana kita memanfaatkannya sangat bergantung pada bagaimana kita mengemasnya dengan pandai sesuai dengan cara kita memasarkan brand kita.



42 tampilan0 komentar