top of page

Consignment Inventory : Pengertian, Cara Mengelola, Keuntungan dan Kekurangannya

Secara umum dalam praktik pengelolaan stok barang, perusahaan ritel akan membeli produk dari supplier dan melakukan pembayaran di awal, sebelum perusahaan ritel menjual produk tersebut kepada konsumen. Praktik ini membuat pihak ritel terbebani oleh setiap produk yang tidak laku atau tidak dapat dijual. Namun, dalam model supply chain lain, terdapat praktik dimana biaya inventory tidak dibebankan kepada perusahaan ritel, tetapi berada pada pihak supplier.


Melalui consignment inventory, baik pihak produsen, supplier dan juga distributor mempertahankan status kepemilikan barang sampai produk tersebut berhasil dijual oleh pihak ritel. Sehingga, melalui model praktik seperti ini, pihak ritel hanya akan membayarkan produk yang berhasil terjual kepada supplier, sekaligus mengembalikan produk yang tidak terjual.


Praktik consignment inventory, biasanya diterapkan oleh perusahaan ritel yang belum memiliki arus kas untuk membeli produk dalam jumlah yang besar, ataupun produk dengan nilai yang tinggi dan lebih sulit untuk dijual. Strategi ini juga melindungi perusahaan ritel dari resiko investasi pada produk yang belum memiliki permintaan pasti, dan bagi pihak supplier, akan memiliki kontrol lebih terhadap bagaimana dan dimana produk bisa mudah terjual.


Apa itu Consignment Inventory

Consignment inventory merupakan sebuah model supply chain dimana perusahaan ritel menawarkan produk untuk dijual kepada konsumen, namun status kepemilikan produk masih berada pada pihak supplier hingga produk tersebut terjual. Karena perusahaan ritel tidak membeli produk kepada supplier, maka ia dapat mengembalikan produk yang tidak terjual kepada pihak supplier.


Beberapa contoh produk yang menerapkan praktik consignment inventory yaitu produk musiman, seperti dekorasi saat musim tertentu dan juga produk yang tidak tahan lama, seperti bahan makanan.


Cara Mengelola Consignment Inventory

Mengelola consignment inventory dengan baik adalah hal yang penting bagi perusahaan ritel, maupun juga pihak supplier agar dapat lebih mudah dalam mengawasi produk. Bagi perusahaan ritel yang menyediakan produk melalui praktik consignment dan non-consignment inventory, pengelolaan produk menjadi hal yang penuh tantangan. Terlebih lagi jika dalam proses manajemennya masih mengandalkan sistem manual, metode pelacakan stok barang seperti ini umumnya sangat lambat dan juga tidak dapat diandalkan, yang pada akhirnya akan menghambat kinerja dan kerjasama antara supplier dengan perusahaan ritel.


Saat ini, berbagai jenis dan penyedia inventory management systems tersedia bagi perusahaan, namun tidak semua sistem diciptakan untuk mengelola proses consignment inventory. Melihat tantangan saat ini, perusahaan dalam berbagai industri membutuhkan sistem yang mampu meningkatkan pengawasan dan kontrol pada berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan pengelolaan inventory. Secara ideal, sistem pengelolaan inventory harus dibekali dengan kemampuan untuk melacak produk dari supplier ke pihak ritel, mengidentifikasi dan menjadwalkan stock replenishment, dan melacak setiap transaksi maupun arus barang.


Kelebihan dari Consignment Inventory

Praktik consignment inventory memiliki banyak kelebihan baik untuk pihak supplier maupun juga perusahaan ritel. Dan jika metode ini dilakukan dengan optimal, kedua pihak tersebut akan mendapat keuntungan.

Kelebihan Consignment Inventory

Kelebihan Consignment Inventory bagi Perusahaan Ritel

  1. Resiko finansial yang rendah. Consignment inventory memungkinkan perusahaan ritel dengan budget yang terbatas untuk tetap memiliki stok produk baru dan menghindari resiko kerugian pada stok produk yang kurang laku dipasaran.

  2. Potensi penjualan yang lebih tinggi. Produk yang tersedia melalui metode consignment inventory membantu perusahaan ritel untuk melakukan diversifikasi produk, yang dapat membantu peningkatan penjualan dan keuntungan.

  3. Penggunaan ruang penyimpanan yang sedikit. Perusahaan ritel dapat melakukan pemesanan produk kepada supplier saat ada permintaan dari konsumen. Sehingga perusahaan ritel tidak perlu menyediakan area penyimpanan bagi produk yang belum laku dan dapat dikirimkan kembali kepada supplier.


Kelebihan Consignment Inventory bagi Supplier

  1. Visibilitas yang baik. Metode consignment inventory memberikan kesempatan bagi supplier untuk dapat menjangkau target pasar yang baru melalui penjualan yang dilakukan oleh perusahaan ritel. Hal ini membuat supplier dapat meraih keuntungan tanpa perlu memikirkan biaya lain seperti memiliki toko dan mengelola staff penjualan untuk mengelola toko.

  2. Pengujian Produk. Consignment inventory dapat membantu supplier untuk menguji sebuah produk pada target pasar baru, dan melakukan evaluasi terhadap performa produk berdasarkan jumlah penjualan yang dihasilkan.

  3. Mengurangi biaya inventory. Sebagai supplier, tentu menyimpan produk dalam jumlah besar pada gudang menjadi hal yang wajar. Dengan menerapkan consigning inventory, pihak supplier dapat mengurangi biaya penanganan produk pada gudang dengan cara mengirimkan stok produk tersebut pada perusahaan ritel hingga produk terjual.


Kekurangan Consignment Inventory

Dibalik kelebihan yang ditawarkan pada consignment inventory, tidak setiap supplier ataupun perusahaan ritel cocok menggunakan metode ini. Berikut beberapa kekurangan dari penerapan consignment inventory bagi kedua pihak tersebut.

Kekurangan Consignment Inventory

Kekurangan Consignment Inventory bagi Perusahaan Ritel

  1. Resiko kerusakan produk. Semakin lama perusahaan ritel menyimpan produk, kemungkinan produk tersebut menjadi rusak. Dan jika produk tersebut rusak, maka perusahaan ritel tetap harus membayar produk yang rusak meskipun barang tersebut tidak terjual.

  2. Manajemen yang kompleks. Terkadang melacak consignment inventory dapat membingungkan baik bagi pihak ritel maupun supplier, yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam proses. Untuk dapat mengatasi permasalahan ini, perusahaan dapat menerapkan software manajemen inventory.

  3. Biaya tambahan. Bergantung pada perjanjian yang berlaku, perusahaan ritel mungkin perlu menutupi biaya tertentu sampai produk terjual kepada konsumen.


Kekurangan Consignment Inventory bagi Supplier

  1. Biaya yang lebih tinggi. Pihak Supplier harus mempertimbangkan beragam potensi biaya yang perlu dikeluarkan, termasuk biaya pengiriman hingga biaya yang berkaitan dengan produk yang rusak.

  2. Usaha yang tidak pasti dalam menjual produk. Karena pihak supplier bergantung pada perusahaan ritel untuk dapat melakukan penjualan produk, akan sangat susah bagi pihak ritel untuk mengetahui apakah pihak ritel melakukan segala upaya agar produk dapat terjual. Terlebih lagi, perusahaan ritel tidak terbebani dengan pembelian produk dan resiko finansial.

  3. Arus kas yang tidak dapat diprediksi. Supplier mungkin akan membutuhkan waktu untuk menunggu pembayaran diterima untuk produk yang terjual. Disisi lain pihak ritel bisa saja menerima pendapatan yang lebih sedikit saat periode tertentu, jika penjualan dari perusahaan ritel sedang menurun.


Optimalkan Manajemen Inventory Perusahaan dengan menerapkan Aplikasi inventory dari Prieds

Sebagai startup penyedia Aplikasi inventory yang dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan perusahaan, Prieds Technology hadir sebagai solusi manajemen inventory agar dapat berjalan dengan efektif melalui integrasi antara hardware dengan software. Beragam fitur dari yang ditawarkan Aplikasi inventory dapat membantu perusahaan untuk mengelola stok barang, dan menjalankan metode manajemen inventory seperti consignment secara akurat dan efisien. Perusahaan juga dapat memantau seluruh aktivitas tersebut hanya dari satu sistem terpusat.


Anda dapat mempelajari lebih lanjut terkait manajemen inventory maupun consignment inventory melalui konsultasi dengan tim ahli Prieds. Dapatkan Aplikasi inventory Prieds yang dilengkapi dengan fitur lengkap, keamanan terbaik dan kemudahan penggunan yang sesuai dengan kebutuhan pada perusahaan.


118 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page