top of page

Cara Membuat Pembukuan Stok Barang Lengkap dan Contohnya

Pembukuan stok barang membantu perusahaan mengetahui jumlah persediaan yang masuk, keluar, dan tersedia. Pencatatan yang tidak akurat dapat menyebabkan selisih stok, kekurangan barang, pembelian berlebih, hingga terganggunya proses penjualan dan operasional.


Dengan pembukuan stok yang terstruktur, perusahaan dapat memantau pergerakan inventory, melakukan rekonsiliasi, serta mengambil keputusan berdasarkan data. Proses ini dapat dilakukan secara manual, menggunakan spreadsheet, atau melalui sistem inventory dan Warehouse Management System.


Apa Itu Pembukuan Stok Barang?

Pembukuan stok barang adalah proses mencatat seluruh transaksi yang menyebabkan perubahan jumlah persediaan dalam suatu periode. Transaksi tersebut dapat berupa pembelian, penerimaan barang, penjualan, pengeluaran, retur, transfer, hasil produksi, penggunaan material, barang rusak, maupun inventory adjustment.


Pembukuan stok membantu perusahaan mengetahui jumlah awal persediaan, setiap perubahan yang terjadi, serta saldo akhir setiap produk. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi purchasing, warehouse, sales, finance, production planning, dan manajemen untuk mengambil keputusan.


Pada bisnis sederhana, pembukuan dapat dilakukan menggunakan buku atau spreadsheet. Namun, ketika jumlah SKU, lokasi, dan transaksi semakin besar, perusahaan biasanya membutuhkan Warehouse Management SystemĀ untuk memperbarui data secara lebih cepat dan terkontrol.


Ilustrasi Pembukuan Stok Barang

Fungsi Pembukuan Stok Barang

Pembukuan stok tidak hanya digunakan untuk mengetahui jumlah barang yang tersedia. Informasi yang dihasilkan memiliki beberapa fungsi penting bagi operasional dan pengambilan keputusan perusahaan.


1. Mengetahui Jumlah Stok Tersedia

Pembukuan membantu perusahaan mengetahui saldo setiap produk setelah mempertimbangkan seluruh transaksi barang masuk dan keluar. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah inventory masih mencukupi kebutuhan operasional.


2. Mencatat Pergerakan Barang

Setiap penerimaan, pengeluaran, transfer, retur, maupun adjustment dicatat sebagai histori transaksi. Perusahaan dapat mengetahui kapan perubahan stok terjadi, jumlahnya, serta dokumen yang menjadi referensi.


3. Membantu Perencanaan Pembelian

Data inventory dapat dibandingkan dengan kebutuhan dan safety stock. Purchasing memperoleh informasi mengenai produk yang perlu dipesan kembali sehingga pembelian tidak hanya berdasarkan perkiraan manual.


4. Mengurangi Risiko Kehabisan Stok

Monitoring saldo membantu perusahaan mendeteksi inventory yang mendekati batas minimum. Replenishment atau purchasing dapat dilakukan lebih awal sebelum kekurangan barang mengganggu pemenuhan permintaan.


5. Mengendalikan Overstock

Pembukuan juga membantu menemukan produk dengan persediaan terlalu tinggi. Perusahaan dapat mengevaluasi pembelian, penjualan, serta product velocity agar modal tidak terlalu lama tertahan dalam inventory.


6. Mendukung Stock Opname

Saldo pembukuan menjadi nilai pembanding ketika perusahaan menghitung stok fisik. Jika terdapat variance, histori transaksi dapat digunakan untuk melakukan investigasi sebelum inventory adjustment disetujui.


7. Mendukung Pelaporan Inventory

Data pembukuan dapat digunakan untuk membuat laporan stok masuk, stok keluar, saldo akhir, movement history, adjustment, hingga nilai persediaan sesuai kebutuhan operasional dan finance.


8. Meningkatkan Kontrol Internal

Setiap transaksi memiliki histori dan referensi yang jelas. Dengan pembagian hak akses dan approval, perusahaan dapat mengurangi perubahan inventory yang tidak memiliki dasar transaksi yang dapat dipertanggungjawabkan.


Rumus Dasar Pembukuan Stok Barang

Perhitungan stok pada dasarnya menggunakan rumus sederhana:


Stok Akhir = Stok Awal + Barang Masuk - Barang Keluar


Misalnya perusahaan memiliki stok awal Produk A sebanyak 500 PCS.


Pada hari tersebut terjadi:

Barang masuk: 200 PCS

Barang keluar: 150 PCS


Maka saldo akhirnya adalah:


500 + 200 - 150 = 550 PCS


Rumus tersebut terlihat sederhana, tetapi menjadi lebih kompleks ketika perusahaan memiliki ribuan SKU, beberapa warehouse, banyak transaksi, batch number, serial number, maupun unit of measure berbeda.


Contoh Pembukuan Stok Barang

Misalnya PT Maju Distribusi memiliki produk SKU-A001 – Botol Minum 1 LiterĀ dengan saldo awal 1.000 PCS.


Berikut contoh transaksi selama satu periode:

Tanggal

Dokumen

Keterangan

Masuk

Keluar

Saldo

1 Agustus

Opening

Saldo Awal

-

-

1.000

2 Agustus

INB-001

Penerimaan Supplier

500

-

1.500

4 Agustus

DO-001

Pengiriman Customer

-

300

1.200

5 Agustus

RTN-001

Customer Return

20

-

1.220

7 Agustus

DO-002

Pengiriman Customer

-

250

970

8 Agustus

ADJ-001

Barang Rusak

-

10

960

Berdasarkan pembukuan tersebut, saldo inventory pada akhir transaksi adalah 960 PCS.

Histori juga menunjukkan bahwa perubahan saldo bukan hanya berasal dari pembelian dan penjualan. Customer return menambah inventory, sementara barang rusak mengurangi stok setelah dilakukan adjustment.


Contoh Pembukuan Stok dengan Beberapa Produk

Pada bisnis dengan banyak SKU, perusahaan dapat membuat ringkasan inventory seperti berikut:

SKU

Nama Produk

Stok Awal

Masuk

Keluar

Stok Akhir

SKU-A001

Produk A

1.000

500

560

940

SKU-A002

Produk B

750

200

300

650

SKU-A003

Produk C

500

100

250

350

SKU-A004

Produk D

300

350

100

550

Tabel ringkasan tersebut membantu perusahaan melihat posisi inventory secara cepat. Namun, detail transaksi setiap SKU tetap perlu disimpan agar perubahan jumlah dapat ditelusuri ketika ditemukan selisih.


Cara Membuat Pembukuan Stok Barang Modern

Pada sistem modern seperti Warehouse Management System (WMS)Ā , proses ini dilakukan secara otomatis melalui beberapa tahapan. Untuk pembukuan inventory, WMS memiliki peran lebih langsung karena setiap aktivitas fisik warehouse dapat menghasilkan pembaruan terhadap jumlah dan lokasi stok.


1. Buat Master Barang

Daftarkan seluruh produk menggunakan SKU unik, nama, kategori, unit of measure, dan informasi lainnya. Master data yang konsisten menjadi dasar agar transaksi tidak tercatat pada item yang salah.


2. Catat Saldo Awal

Lakukan perhitungan inventory untuk mengetahui jumlah awal setiap produk. Pastikan saldo awal sesuai kondisi fisik sebelum pembukuan baru mulai digunakan.


3. Tentukan Lokasi Inventory

Jika perusahaan memiliki beberapa warehouse atau storage location, pisahkan saldo berdasarkan lokasi. Hal ini membantu mengetahui jumlah sekaligus posisi barang yang sebenarnya.


4. Catat Setiap Barang Masuk

Semua transaksi yang meningkatkan inventory harus dicatat, termasuk penerimaan supplier, retur pelanggan, transfer masuk, maupun output produksi. Sertakan nomor dokumen sebagai referensi transaksi.


5. Catat Setiap Barang Keluar

Pengiriman customer, material usage, transfer keluar, barang rusak, atau aktivitas lain yang mengurangi stok juga perlu tercatat pada saat transaksi berlangsung.


6. Perbarui Saldo Secara Konsisten

Setelah transaksi masuk atau keluar dilakukan, saldo inventory harus langsung diperbarui. Hindari menunda input karena kondisi fisik dapat berubah sebelum pencatatan selesai.


7. Simpan Referensi Dokumen

Hubungkan setiap perubahan inventory dengan Purchase Order, Inbound, Delivery Order, Stock Transfer, Production Order, atau dokumen lain agar transaksi dapat ditelusuri ketika diperlukan.


8. Lakukan Rekonsiliasi Berkala

Bandingkan saldo pembukuan dengan stok fisik melalui cycle counting atau stock opname. Produk dengan perbedaan perlu diperiksa sebelum dilakukan inventory adjustment.


9. Investigasi Selisih

Periksa histori inbound, outbound, transfer, return, damage, picking, dan adjustment untuk mengetahui penyebab variance. Jangan langsung mengubah saldo tanpa mengetahui sumber perbedaan.


10. Buat Inventory Adjustment

Setelah jumlah aktual dikonfirmasi, lakukan adjustment dengan reason code dan approval yang jelas sehingga perubahan saldo tetap memiliki audit trail.


11. Buat Laporan Periodik

Gunakan data pembukuan untuk membuat laporan saldo, inventory movement, stock variance, slow-moving, dead stock, dan kebutuhan replenishment sesuai kebutuhan manajemen.


Jenis Pembukuan Stok

Pembukuan stok dapat dibedakan berdasarkan jenis pergerakan barang dan informasi yang perlu dipantau perusahaan. Pengelompokan ini membantu perusahaan mencatat setiap perubahan inventory secara lebih terstruktur, mulai dari penerimaan barang hingga pengeluaran dari warehouse.


1. Pembukuan Stok Barang Masuk

Pembukuan barang masuk mencatat seluruh transaksi yang menambah inventory.


Contohnya meliputi:

  • Penerimaan pembelian dari supplier

  • Customer return

  • Transfer antar gudang

  • Hasil produksi

  • Inventory adjustment penambahan

  • Penerimaan barang lainnya


Setiap penerimaan sebaiknya memiliki dokumen dan quantity yang dapat diverifikasi.


Pada warehouse yang menggunakan WMS, operator dapat melakukan scanning SKU atau barcode ketika receiving. Setelah proses memenuhi persyaratan, sistem memperbarui inventory sesuai transaksi yang telah diproses.


2. Pembukuan Stok Barang Keluar

Pembukuan barang keluar mencatat semua aktivitas yang menyebabkan jumlah inventory berkurang.


Beberapa contohnya adalah:

  • Pengiriman berdasarkan Delivery Order

  • Transfer ke warehouse lain

  • Material usage untuk produksi

  • Supplier return

  • Barang rusak

  • Barang expired

  • Inventory adjustment pengurangan


Dokumen dan alasan pengeluaran penting untuk memastikan perusahaan dapat membedakan transaksi bisnis normal dengan koreksi inventory.


3. Pembukuan Stok Berdasarkan Lokasi

Mengetahui total inventory saja belum cukup untuk warehouse dengan banyak lokasi penyimpanan.


Misalnya sistem mencatat Produk A sebanyak 1.000 PCS.


Jumlah tersebut dapat tersebar menjadi:

  • Zone A – Sloc A01: 300 PCS

  • Zone A – Sloc A02: 200 PCS

  • Zone B – Sloc B01: 400 PCS

  • Staging Outbound: 100 PCS


Totalnya tetap 1.000 PCS, tetapi informasi lokasi diperlukan agar operator mengetahui di mana produk dapat ditemukan.


Pembukuan berdasarkan storage location juga membantu aktivitas putaway, picking, replenishment, stock transfer, dan stock opname dilakukan secara lebih akurat.


4. Pembukuan Stok Berdasarkan Batch dan Expired Date

Beberapa industri membutuhkan pembukuan lebih detail daripada hanya SKU dan quantity.


Produk makanan, minuman, farmasi, kosmetik, maupun chemical dapat memiliki batch number dan expired date.


Contohnya:

SKU MED-001


Batch B001 – Expired Januari 2027: 300 PCS

Batch B002 – Expired April 2027: 500 PCS

Batch B003 – Expired Juli 2027: 200 PCS


Total inventory adalah 1.000 PCS.


Namun, sistem perlu mengetahui masing-masing batch agar perusahaan dapat menerapkan FEFO atau First Expired First Out, sehingga inventory dengan expiry terdekat diprioritaskan untuk digunakan atau dikirim terlebih dahulu.


5. Pembukuan Stok Berdasarkan Serial Number

Produk tertentu seperti elektronik, mesin, equipment, atau aset bernilai tinggi dapat membutuhkan tracking menggunakan serial number.


Jika perusahaan memiliki 100 unit produk, sistem tidak hanya menyimpan quantity 100 PCS tetapi juga mencatat identitas setiap unit.


Contohnya:

  • SN001

  • SN002

  • SN003

  • dan seterusnya.


Serial number memberikan traceability yang lebih detail karena perusahaan dapat mengetahui unit tertentu diterima dari supplier mana, disimpan di mana, serta dikirim kepada customer yang mana.


Perbedaan Pembukuan Stok dan Stock Opname

Pembukuan stok dan stock opname memiliki fungsi yang saling berkaitan tetapi berbeda.


Pembukuan stok merupakan pencatatan setiap perubahan inventory yang dilakukan secara terus-menerus selama operasional.


Sementara stock opname merupakan aktivitas menghitung jumlah barang secara fisik kemudian membandingkannya dengan data pembukuan.


Sebagai contoh, pembukuan menunjukkan Produk A sebanyak 1.000 PCS. Ketika stock opname dilakukan, kondisi fisiknya ternyata hanya 995 PCS. Artinya terdapat variance sebesar 5 PCS.


Perusahaan kemudian perlu melakukan recount dan memeriksa histori transaksi sebelum menentukan apakah inventory adjustment diperlukan. Pembukuan yang baik mempermudah proses investigasi karena perusahaan memiliki histori terhadap setiap perubahan stok.


Metode Pembukuan Stok Barang

Secara operasional, perusahaan dapat melakukan pembukuan inventory menggunakan beberapa pendekatan.


1. Pembukuan Manual

Pencatatan dilakukan menggunakan buku atau formulir fisik. Metode ini mudah diterapkan tetapi memiliki risiko kesalahan pencatatan, kehilangan dokumen, serta keterlambatan pembaruan saldo.


2. Spreadsheet

Excel atau spreadsheet memberikan kemampuan perhitungan otomatis dan pelaporan yang lebih baik. Namun, kontrol menjadi lebih sulit ketika banyak pengguna melakukan perubahan terhadap file yang sama.


3. Warehouse Management System

WMS menghubungkan pembukuan inventory dengan aktivitas fisik warehouse seperti inbound, putaway, stock movement, replenishment, picking, stock opname, packing, dan outbound.


Peran WMS dalam Pembukuan Stok Barang

Warehouse Management System membantu perusahaan mencatat inventory berdasarkan aktivitas fisik di warehouse. Saat barang diterima, WMS mencatat inbound, memperbarui quantity, dan menentukan lokasi penyimpanan melalui proses putaway.


Ketika barang berpindah antar storage location, stock movement memperbarui posisi sekaligus menyimpan histori lokasi asal dan tujuan. Pada outbound, picking dan pengeluaran barang mengurangi inventory berdasarkan dokumen yang diproses.


Validasi barcode memastikan SKU dan quantity sesuai transaksi. WMS juga mencatat site, zone, storage location, batch number, serial number, dan expired date, sehingga pembukuan stok terhubung dengan posisi serta status fisik inventory.


Pembukuan Stok Barang dengan Prieds WMS

Prieds Warehouse Management SystemĀ membantu perusahaan mengelola pembukuan inventory melalui proses terintegrasi, mulai dari inbound, putaway, stock movement, replenishment, stock opname, picking, packing, hingga outbound.


Penggunaan barcode, RFID, dan handheld device membantu operator memvalidasi transaksi secara langsung. Data pergerakan inventory tercatat lebih cepat sehingga ketergantungan terhadap input manual dapat dikurangi.


Prieds WMSĀ menampilkan inventory berdasarkan lokasi dan memonitor pergerakan stok. Integrasi dengan ERP menghubungkan aktivitas warehouse dengan purchasing, sales, dan inventory untuk menghasilkan data yang lebih konsisten.


Konsultasikan kebutuhan bisnis AndaĀ bersama tim ahli Prieds untuk menemukan solusi yang paling sesuai dengan operasional perusahaan.

Ā 
Ā 
bottom of page