top of page

Shipment Wave Scheduling: Pengertian, Manfaat & Cara Kerja dalam Logistik

Proses pengiriman yang tidak terjadwal dapat menyebabkan antrean kendaraan, keterlambatan loading, penggunaan armada yang tidak optimal, serta meningkatnya biaya transportasi operasional. Kondisi ini membuat perusahaan perlu menerapkan perencanaan pengiriman yang lebih terstruktur dan efisien.


Shipment Wave Scheduling membantu perusahaan mengelompokkan dan menjadwalkan shipment berdasarkan waktu, rute, prioritas, kapasitas armada, serta kesiapan barang secara sistematis. Artikel ini membahas pengertian, komponen, jenis, manfaat, cara kerja, hingga penerapannya dalam transportasi modern.


Apa Itu Shipment Wave Scheduling?

Shipment Wave Scheduling adalah metode perencanaan pengiriman dengan mengelompokkan sejumlah shipment ke dalam beberapa gelombang atau wave berdasarkan kriteria operasional tertentu. Setiap wave memiliki jadwal pemrosesan, loading, dan keberangkatan yang telah ditentukan.


Pengelompokan tersebut dapat dilakukan berdasarkan tujuan pengiriman, rute, cut-off time, prioritas pelanggan, kapasitas kendaraan, jenis produk, lokasi staging, atau kesiapan dokumen. Dengan metode ini, shipment tidak diproses secara acak atau hanya berdasarkan urutan masuk.


Dalam operasional yang terintegrasi, Shipment Wave Scheduling menghubungkan aktivitas warehouse dengan proses transportasi. Tim warehouse menyiapkan picking dan staging sesuai jadwal, sementara tim transportasi menyiapkan kendaraan, pengemudi, rute, dan dokumen pengiriman. Sistem seperti PriedsĀ membantu mengotomatisasi penjadwalan wave secara real-time.


Ilustrasi Shipment Wave Scheduling

Komponen Utama Shipment Wave Scheduling

Sebelum membentuk wave pengiriman, perusahaan perlu memahami berbagai komponen yang menjadi dasar pengelompokan shipment. Komponen ini saling berkaitan dan menentukan akurasi perencanaan distribusi, diantaranya:


1. Shipment Order

Shipment order merupakan data utama yang berisi informasi barang, jumlah, lokasi asal, tujuan, pelanggan, jadwal pengiriman, serta kebutuhan layanan. Data ini digunakan untuk menentukan shipment yang dapat digabungkan dalam satu wave.


2. Delivery Time Window

Delivery time window menunjukkan rentang waktu penerimaan barang di lokasi pelanggan. Sistem perlu mempertimbangkan waktu perjalanan, proses loading, antrean kendaraan, dan kemungkinan keterlambatan agar shipment tiba sesuai jadwal.


3. Cut-Off Time

Cut-off time adalah batas waktu pemrosesan shipment sebelum masuk ke jadwal keberangkatan tertentu. Shipment yang melewati batas waktu dapat dipindahkan ke wave berikutnya agar tidak mengganggu pengiriman yang telah direncanakan.


4. Route dan Destination

Shipment dengan rute atau wilayah tujuan yang sama dapat dikelompokkan agar penggunaan kendaraan lebih efisien. Pengelompokan ini membantu mengurangi perjalanan kosong, jarak tempuh berlebihan, dan jumlah kendaraan yang dibutuhkan.


5. Vehicle Capacity

Kapasitas kendaraan perlu dihitung berdasarkan berat, volume, jumlah pallet, karton, atau satuan lainnya. Shipment dalam satu wave tidak boleh melebihi kapasitas aman kendaraan yang telah dialokasikan.


6. Shipment Priority

Prioritas shipment dapat ditentukan berdasarkan service level agreement, waktu pengiriman, jenis pelanggan, kondisi produk, atau kebutuhan mendesak. Shipment berprioritas tinggi harus ditempatkan pada wave yang mendukung target pengiriman tersebut.


7. Warehouse Readiness

Kesiapan warehouse mencakup status picking, packing, staging, labeling, dan pemeriksaan barang. Shipment sebaiknya tidak dijadwalkan untuk loading apabila barang atau dokumen pendukungnya belum siap diproses.


8. Fleet and Driver Availability

Sistem harus memastikan kendaraan dan pengemudi tersedia pada jadwal yang dipilih. Pemeriksaan juga dapat mencakup status kendaraan, kelayakan operasional, dokumen kendaraan, kompetensi pengemudi, serta batas jam kerja.


9. Loading Dock Availability

Loading dock memiliki kapasitas terbatas dan tidak dapat digunakan oleh seluruh kendaraan secara bersamaan. Penjadwalan wave membantu mengatur urutan kendaraan agar proses loading berjalan tanpa antrean yang berlebihan.


10. Dispatch Schedule

Dispatch schedule menentukan kapan kendaraan harus selesai loading dan meninggalkan fasilitas. Jadwal ini menjadi acuan bagi tim warehouse, checker, transporter, pengemudi, dan pihak lain yang terlibat dalam pengiriman.


Jenis Shipment Wave Scheduling

Dalam praktik operasional, shipment wave dapat dibentuk dengan berbagai pendekatan tergantung kebutuhan bisnis. Setiap jenis wave memiliki tujuan optimasi yang berbeda, yaitu:


1. Time-Based Wave

Time-based wave mengelompokkan shipment berdasarkan periode tertentu, misalnya setiap satu jam, dua jam, atau berdasarkan jadwal keberangkatan. Metode ini cocok untuk operasional dengan volume shipment tinggi dan cut-off rutin.


2. Route-Based Wave

Route-based wave mengelompokkan shipment berdasarkan jalur distribusi, wilayah, kota, atau cluster tujuan. Pendekatan ini membantu meningkatkan konsolidasi muatan dan mengurangi jarak perjalanan yang tidak produktif.


3. Priority-Based Wave

Priority-based wave menyusun shipment berdasarkan tingkat urgensi. Shipment dengan target waktu terdekat, pelanggan prioritas, produk sensitif, atau risiko keterlambatan tinggi dapat diproses pada wave lebih awal.


4. Capacity-Based Wave

Capacity-based wave membuat pengelompokan berdasarkan kapasitas kendaraan yang tersedia. Sistem menyesuaikan berat, volume, pallet, dan karakteristik muatan agar penggunaan kendaraan lebih optimal dan tetap memenuhi batas keselamatan.


5. Carrier-Based Wave

Carrier-based wave digunakan ketika perusahaan bekerja dengan beberapa transporter atau carrier. Shipment dikelompokkan berdasarkan kontrak, area layanan, tarif, kemampuan armada, serta jadwal pengambilan yang dimiliki setiap carrier.


6. Hybrid Wave

Hybrid wave menggabungkan beberapa kriteria sekaligus, seperti waktu, rute, prioritas, kapasitas, dan carrier. Metode ini lebih fleksibel untuk operasional kompleks yang memiliki banyak tujuan dan aturan pengiriman.


Manfaat Shipment Wave Scheduling

Penerapan shipment wave scheduling memberikan dampak langsung terhadap efisiensi operasional logistik. Manfaat ini tidak hanya dirasakan di warehouse, tetapi juga di transportasi dan layanan pelanggan sebagai berikut:


1. Meningkatkan Ketepatan Waktu Pengiriman

Shipment diproses berdasarkan jadwal dan prioritas yang jelas. Tim operasional dapat mengetahui batas waktu picking, loading, dan dispatch sehingga risiko keterlambatan keberangkatan maupun keterlambatan penerimaan pelanggan dapat dikurangi.


2. Mengoptimalkan Penggunaan Armada

Pengelompokan shipment berdasarkan rute dan kapasitas membantu perusahaan memaksimalkan muatan setiap kendaraan. Armada dapat digunakan secara lebih produktif tanpa terlalu banyak ruang kosong atau perjalanan yang tidak diperlukan.


3. Mengurangi Antrean Loading

Setiap wave memiliki alokasi waktu pemrosesan dan loading. Kendaraan tidak perlu datang secara bersamaan sehingga kepadatan di loading dock, area staging, maupun gerbang keluar dapat dikendalikan.


4. Meningkatkan Koordinasi Warehouse dan Transportasi

Warehouse mengetahui shipment yang harus diprioritaskan untuk picking dan staging. Tim transportasi juga mengetahui kendaraan, pengemudi, rute, serta waktu keberangkatan yang harus disiapkan untuk setiap wave.


5. Mengendalikan Area Staging

Barang dapat ditempatkan di staging area sesuai urutan keberangkatan. Hal ini mencegah penumpukan barang terlalu lama dan mengurangi risiko tertukar, salah muat, rusak, atau menghalangi aktivitas operasional lainnya.


6. Mengurangi Biaya Operasional

Penjadwalan yang lebih baik dapat mengurangi lembur, waktu tunggu kendaraan, penggunaan armada tambahan, pengiriman parsial, serta perjalanan berulang. Dampaknya adalah biaya transportasi dan warehouse yang lebih terkendali.


7. Meningkatkan Visibilitas Shipment

Status setiap shipment dapat dipantau berdasarkan wave, mulai dari planned, picking, staged, loading, ready to dispatch, hingga dispatched. Tim manajemen dapat lebih cepat mengidentifikasi keterlambatan dan kendala.


8. Mendukung Pengambilan Keputusan

Data performa wave dapat digunakan untuk mengevaluasi ketepatan jadwal, utilisasi kendaraan, waktu loading, keterlambatan dispatch, dan produktivitas tim. Informasi tersebut membantu perusahaan memperbaiki perencanaan operasional berikutnya.


Cara Kerja Shipment Wave Scheduling

Untuk menghasilkan perencanaan yang akurat, shipment wave scheduling bekerja melalui serangkaian proses terstruktur yang biasanya dijalankan oleh sistem WMS atau TMS, yaitu:


1. Mengumpulkan Data Shipment

Sistem mengambil shipment yang siap direncanakan dari sales order, delivery order, stock transfer order, atau dokumen operasional lainnya. Setiap shipment diperiksa berdasarkan tujuan, jadwal, volume, berat, dan status barang.


2. Memeriksa Kesiapan Shipment

Sistem memvalidasi kelengkapan data, ketersediaan stok, status dokumen, kebutuhan kendaraan, dan delivery time window. Shipment yang belum memenuhi persyaratan dapat ditahan agar tidak masuk ke wave aktif.


3. Menentukan Kriteria Wave

Perusahaan menentukan aturan pengelompokan berdasarkan waktu, rute, prioritas, carrier, kapasitas, atau kombinasi beberapa parameter. Aturan tersebut disesuaikan dengan karakteristik operasional dan target layanan perusahaan.


4. Mengelompokkan Shipment

Sistem mengelompokkan shipment yang memenuhi kriteria ke dalam satu wave. Setiap kelompok memiliki target picking, staging, loading, dan dispatch yang menjadi acuan bagi seluruh tim operasional.


5. Menghitung Kebutuhan Armada

Total berat, volume, pallet, dan jumlah shipment dihitung untuk menentukan jenis serta jumlah kendaraan. Sistem kemudian mencocokkan kebutuhan tersebut dengan kendaraan atau carrier yang tersedia.


6. Menetapkan Kendaraan dan Pengemudi

Kendaraan dan pengemudi dialokasikan berdasarkan jadwal, rute, kapasitas, serta persyaratan operasional. Pemeriksaan dapat mencakup status kendaraan, dokumen, maintenance, lisensi, dan batas waktu kerja pengemudi.


7. Menerbitkan Warehouse Task

WMS menerbitkan picking, packing, atau staging task sesuai urutan wave. Shipment dengan jadwal keberangkatan terdekat dapat diprioritaskan agar barang tersedia tepat sebelum proses checking dan loading dimulai.


8. Melakukan Checking dan Loading

Tim operasional memeriksa kesesuaian barang, jumlah, dokumen, kendaraan, dan tujuan. Setelah pemeriksaan selesai, barang dimuat sesuai urutan yang mendukung proses unloading di lokasi tujuan.


9. Melakukan Dispatch

Kendaraan diberangkatkan setelah loading, checking, dan dokumen dinyatakan lengkap. Status shipment diperbarui menjadi dispatched atau in transit sehingga perjalanan dapat mulai dipantau oleh tim operasional.


10. Mengevaluasi Performa Wave

Sistem mencatat waktu aktual setiap proses dan membandingkannya dengan jadwal. Data ini digunakan untuk mengetahui keterlambatan, utilisasi kendaraan, produktivitas loading, dan penyebab shipment tidak berangkat sesuai rencana.


Contoh Penerapan Shipment Wave Scheduling

Sebuah pusat distribusi memiliki 60 shipment yang harus dikirimkan dalam satu hari. Shipment tersebut memiliki tujuan, waktu penerimaan pelanggan, volume, dan tingkat prioritas yang berbeda.


Perusahaan kemudian membagi shipment menjadi tiga wave. Wave pertama dijadwalkan untuk keberangkatan pagi dan berisi shipment prioritas dengan tujuan dalam kota. Wave kedua berisi pengiriman antarkota yang membutuhkan waktu perjalanan lebih panjang.


Wave ketiga digunakan untuk shipment reguler yang memiliki waktu penerimaan lebih fleksibel. Picking task, staging area, kendaraan, pengemudi, dan loading dock disiapkan berdasarkan masing-masing jadwal wave.


Apabila salah satu shipment pada wave pertama belum selesai dipacking, sistem dapat memberikan peringatan kepada tim terkait. Shipment tersebut dapat diprioritaskan, dipindahkan ke wave berikutnya, atau dialokasikan ke kendaraan lain berdasarkan kondisi operasional.


Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya mengetahui barang yang harus dikirim, tetapi juga memahami kapan barang harus disiapkan, kendaraan mana yang digunakan, dan risiko apa yang dapat menghambat keberangkatan.


Peran WMS dan TMS dalam Shipment Wave Scheduling

Warehouse Management System membantu memastikan barang siap sesuai jadwal wave. WMS dapat mengatur prioritas picking, packing, staging, dan loading berdasarkan waktu keberangkatan, sehingga aktivitas warehouse selaras dengan rencana transportasi.


Sedangkan Transportation Management System membantu menyusun shipment plan, mengelompokkan shipment, menghitung kebutuhan kendaraan, menentukan carrier, menjadwalkan dispatch, dan memantau perjalanan. TMS juga dapat memberikan peringatan apabila terjadi konflik jadwal atau kekurangan kapasitas.


Untuk mencapai efisiensi yang lebih maksimal, perusahaan dapat menggunakan Prieds Transportation Management System (TMS)Ā dan Warehouse Management System (WMS) yang sudah terintegrasi dalam satu platform.Ā 


Prieds membantu mengotomatisasi shipment wave scheduling, mengoptimalkan alokasi armada, meningkatkan visibilitas real-time, serta mengurangi risiko keterlambatan melalui perencanaan dan eksekusi yang lebih presisi.


Dengan Prieds, seluruh proses dari warehouse hingga transportasi dapat dikelola lebih cepat, akurat, dan terkontrol dalam satu sistem terpadu. KonsultasikanĀ kebutuhan bisnis dengan tim ahli Prieds untuk mengetahui solusi yang tepat bagi bisnis Anda.


Ā 
Ā 
bottom of page