Incoterms: Pengertian, Jenis, Fungsi, dan Perbedaannya dalam Ekspor Impor
Dalam perdagangan internasional, penjual dan pembeli perlu menyepakati siapa yang mengatur pengiriman, menanggung biaya transportasi, mengurus kepabeanan, dan bertanggung jawab atas risiko kerusakan barang. Ketidakjelasan pembagian tanggung jawab dapat menimbulkan biaya tambahan dan sengketa transaksi.
Incoterms membantu memperjelas tanggung jawab tersebut melalui aturan perdagangan yang diakui secara internasional. Dengan memahami setiap istilahnya, perusahaan dapat merencanakan pengiriman, menghitung biaya logistik, dan mengelola risiko ekspor-impor dengan lebih terstruktur.

Definisi incoterms
Incoterms merupakan singkatan dari International Commercial Terms, yaitu aturan perdagangan yang diterbitkan oleh International Chamber of Commerce (ICC). Aturan ini menjelaskan pembagian kewajiban, biaya, dan risiko antara penjual (seller) dan pembeli (buyer) dalam kontrak jual beli barang.
Incoterms digunakan dalam transaksi domestik maupun internasional untuk memperjelas tanggung jawab yang berkaitan dengan pengiriman barang. Setiap istilah memiliki ketentuan berbeda mengenai titik penyerahan barang, pengaturan transportasi, pengurusan kepabeanan, serta pembagian risiko dan biaya.
Edisi Incoterms 2020 merupakan edisi terbaru yang tercantum pada situs resmi ICC saat artikel ini disusun. Edisi tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2020 dan terdiri dari 11 aturan perdagangan.
Dalam praktiknya, Incoterms perlu dicantumkan secara jelas dalam kontrak atau dokumen transaksi, disertai lokasi yang disepakati dan edisi aturan yang digunakan. Contohnya, FOB Tanjung Priok Port, Jakarta, Indonesia, Incoterms 2020.
Mengapa Incoterms Penting dalam Perdagangan?
Incoterms membantu perusahaan memahami tanggung jawab logistik dan kepabeanan sebelum transaksi dilaksanakan. Kejelasan ini penting untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat mempengaruhi biaya, waktu pengiriman, dan pengelolaan risiko barang.
1. Memperjelas Tanggung Jawab Penjual dan Pembeli
Incoterms menjelaskan pihak yang bertanggung jawab mengatur transportasi, menyerahkan barang, mengurus formalitas ekspor atau impor, serta menyediakan dokumen tertentu sesuai aturan yang dipilih.
2. Mengatur Pembagian Biaya Logistik
Setiap aturan menentukan pembagian biaya yang berbeda, termasuk transportasi, penanganan, dan pengiriman sesuai ketentuannya. Dengan demikian, perusahaan dapat menyusun estimasi biaya logistik berdasarkan tanggung jawab masing-masing pihak.
3. Menentukan Peralihan Risiko Barang
Incoterms menetapkan titik penyerahan ketika risiko kehilangan atau kerusakan barang beralih dari penjual kepada pembeli. Titik peralihan ini tidak selalu sama dengan lokasi tujuan akhir pengiriman.
4. Membantu Perencanaan Biaya Impor
Informasi tanggung jawab transportasi dan kepabeanan membantu importir memperkirakan komponen biaya pengadaan. Namun, total biaya impor tetap perlu memperhitungkan bea masuk, pajak, asuransi, dan biaya lain yang relevan.
5. Mengurangi Potensi Sengketa
Kesepakatan Incoterms yang jelas membantu kedua pihak memahami kewajiban masing-masing apabila terjadi keterlambatan, kerusakan barang, atau perbedaan pemahaman mengenai pengaturan pengiriman.
6. Mendukung Perencanaan Supply Chain
Pembagian tanggung jawab yang jelas membantu perusahaan menentukan kapan barang disiapkan, kapan transportasi dipesan, serta kapan risiko dan biaya pengiriman menjadi tanggung jawab pihak tertentu.
Apa Saja yang Diatur dan Tidak Diatur oleh Incoterms?
Incoterms berfokus pada aspek pengiriman barang dalam kontrak jual beli. Aturan ini penting, tetapi tidak menggantikan keseluruhan kontrak komersial antara penjual dan pembeli.
1. Pembagian Kewajiban
Incoterms menjelaskan siapa yang mengatur transportasi, menangani formalitas ekspor-impor, menyediakan dokumen tertentu, dan memenuhi kewajiban penyerahan barang berdasarkan aturan yang disepakati.
2. Pembagian Biaya
Aturan ini menentukan biaya yang menjadi tanggung jawab penjual dan pembeli dalam proses pengiriman, termasuk transportasi dan penanganan tertentu sesuai ketentuan masing-masing Incoterm.
3. Titik Peralihan Risiko
Incoterms menentukan kapan risiko kehilangan atau kerusakan barang beralih dari penjual kepada pembeli. Penentuan lokasi dan titik penyerahan sangat penting untuk memahami tanggung jawab selama perjalanan.
4. Kepemilikan Barang dan Pembayaran
Incoterms tidak menentukan perpindahan hak kepemilikan barang, metode pembayaran, mata uang transaksi, spesifikasi produk, atau seluruh konsekuensi pelanggaran kontrak. Hal-hal tersebut perlu diatur secara terpisah dalam kontrak jual beli.
Dua Kelompok Utama Incoterms 2020
Sebelas aturan Incoterms 2020 dibagi berdasarkan jenis transportasi yang dapat digunakan. Tujuh aturan berlaku untuk satu atau beberapa moda transportasi, sedangkan empat lainnya khusus untuk transportasi laut dan perairan pedalaman.
1. Incoterms untuk Semua Moda Transportasi
Kelompok ini terdiri dari EXW, FCA, CPT, CIP, DAP, DPU, dan DDP. Aturan tersebut dapat digunakan untuk transportasi darat, udara, laut, kereta api, atau kombinasi berbagai moda sesuai karakteristik pengiriman.
2. Incoterms untuk Transportasi Laut dan Perairan Pedalaman
Kelompok ini terdiri dari FAS, FOB, CFR, dan CIF. Aturan tersebut dirancang untuk pengiriman melalui laut atau perairan pedalaman, dengan titik penyerahan yang berkaitan dengan kapal atau pelabuhan.
Jenis-Jenis Incoterms untuk Semua Moda Transportasi
Aturan dalam kelompok ini banyak digunakan untuk pengiriman multimoda, termasuk pengiriman yang melibatkan truk, kapal, kereta api, dan pesawat. Pemilihan aturan bergantung pada pembagian tanggung jawab serta titik penyerahan yang disepakati.
1. EXW (Ex Works)
EXW berarti penjual menyediakan barang di lokasi yang disepakati, biasanya di tempat usaha atau gudang penjual. Pembeli menanggung sebagian besar tanggung jawab dan biaya pengambilan, transportasi, serta formalitas terkait setelah penyerahan tersebut.
EXW memberikan kewajiban minimal kepada penjual. Namun, untuk ekspor internasional, pengurusan formalitas ekspor dan proses pemuatan dapat menimbulkan kesulitan bagi pembeli. Karena itu, FCA sering perlu dipertimbangkan sebagai alternatif.
2. FCA (Free Carrier)
FCA mengharuskan penjual menyerahkan barang kepada pengangkut atau pihak lain yang ditunjuk pembeli di lokasi yang disepakati. Penjual juga bertanggung jawab menyelesaikan formalitas ekspor sesuai ketentuan FCA.
Jika penyerahan dilakukan di tempat usaha penjual, penjual bertanggung jawab memuat barang ke kendaraan yang disediakan pembeli. Jika titik penyerahan berada di lokasi lain, barang diserahkan sesuai mekanisme penyerahan yang ditentukan dalam aturan tersebut.
3. CPT (Carriage Paid To)
CPT berarti penjual mengatur dan membayar transportasi barang sampai lokasi tujuan yang disepakati. Meskipun demikian, risiko beralih kepada pembeli ketika barang diserahkan kepada pengangkut sesuai ketentuan CPT, bukan ketika barang tiba di tujuan.
Karena itu, pembagian biaya dan risiko pada CPT perlu dibedakan. Penjual dapat tetap membayar transportasi hingga tujuan, sementara pembeli sudah menanggung risiko barang setelah titik penyerahan kepada pengangkut.
4. CIP (Carriage and Insurance Paid To)
CIP serupa dengan CPT dalam hal penjual mengatur transportasi hingga tujuan yang disepakati, sementara risiko beralih ketika barang diserahkan kepada pengangkut. Perbedaannya, penjual juga wajib menyediakan asuransi kargo sesuai persyaratan CIP.
Dalam Incoterms 2020, CIP mensyaratkan tingkat pertanggungan asuransi yang lebih luas, umumnya mengacu pada Institute Cargo Clauses (A) atau ketentuan setara, kecuali para pihak menyepakati pengaturan yang diperbolehkan.
5. DAP (Delivered at Place)
DAP berarti penjual menanggung biaya dan risiko pengiriman hingga barang tiba di lokasi tujuan yang disepakati. Barang dianggap diserahkan ketika tersedia bagi pembeli di atas kendaraan pengangkut, siap untuk dibongkar.
Pembeli bertanggung jawab atas pembongkaran serta formalitas impor sesuai ketentuan. DAP dapat digunakan ketika penjual mengatur transportasi hingga lokasi pembeli, tetapi pembeli tetap menangani proses impor.
6. DPU (Delivered at Place Unloaded)
DPU mewajibkan penjual mengatur pengiriman hingga lokasi tujuan yang disepakati dan menanggung risiko sampai barang selesai dibongkar di tempat tersebut. Aturan ini menjadi Incoterm yang secara eksplisit mewajibkan penjual melakukan pembongkaran.
DPU cocok ketika pembeli ingin barang tiba dan telah diturunkan di lokasi yang ditentukan. Berbeda dari DAP, tanggung jawab pembongkaran berada pada penjual; formalitas impor umumnya tetap menjadi tanggung jawab pembeli.
7. DDP (Delivered Duty Paid)
DDP menempatkan tanggung jawab terbesar pada penjual. Penjual mengatur transportasi hingga lokasi tujuan dan menangani formalitas impor, termasuk kewajiban bea masuk serta pajak terkait sesuai ketentuan yang berlaku.
Pembeli umumnya menerima barang di lokasi tujuan ketika tersedia untuk dibongkar. Sebelum menyepakati DDP, penjual perlu memastikan bahwa pihaknya secara hukum dan operasional mampu menyelesaikan formalitas impor di negara tujuan.
Jenis-Jenis Incoterms untuk Transportasi Laut
FAS, FOB, CFR, dan CIF dirancang untuk transportasi laut atau perairan pedalaman. Aturan ini perlu digunakan dengan memperhatikan titik penyerahan di pelabuhan dan cara barang dimuat ke kapal.
1. FAS (Free Alongside Ship)
FAS mengharuskan penjual menyerahkan barang di samping kapal pada pelabuhan pengapalan yang disepakati. Setelah barang tersedia di titik tersebut, risiko beralih kepada pembeli sesuai ketentuan FAS.
Pembeli umumnya mengatur pemuatan ke kapal dan transportasi laut berikutnya. FAS dapat relevan untuk jenis kargo tertentu ketika penyerahan di sisi kapal sesuai dengan praktik pengiriman yang digunakan.
2. FOB (Free on Board)
FOB mengharuskan penjual menyerahkan barang ketika barang telah dimuat ke atas kapal yang ditunjuk pembeli di pelabuhan pengapalan yang disepakati. Risiko beralih kepada pembeli pada titik tersebut.
Pembeli mengatur dan membayar transportasi laut setelah penyerahan sesuai ketentuan. FOB umumnya digunakan untuk pengiriman laut, terutama ketika titik penyerahan di atas kapal sesuai dengan jenis kargo dan pengaturan transportasinya.
3. CFR (Cost and Freight)
CFR mewajibkan penjual membayar biaya dan angkutan laut hingga pelabuhan tujuan yang disepakati. Namun, risiko kehilangan atau kerusakan barang beralih kepada pembeli ketika barang telah dimuat ke atas kapal di pelabuhan pengapalan.
Artinya, penjual membayar angkutan menuju tujuan, tetapi tidak menanggung risiko barang hingga tiba di pelabuhan tujuan. CFR juga tidak mewajibkan penjual menyediakan asuransi kargo bagi pembeli.
4. CIF (Cost, Insurance and Freight)
CIF serupa dengan CFR karena penjual membayar biaya dan angkutan laut menuju pelabuhan tujuan yang disepakati. Perbedaannya, penjual juga wajib menyediakan asuransi kargo sesuai persyaratan CIF.
Risiko tetap beralih ketika barang dimuat ke atas kapal di pelabuhan pengapalan, bukan ketika barang tiba di tujuan. Dalam Incoterms 2020, CIF umumnya mensyaratkan pertanggungan minimum sesuai Institute Cargo Clauses (C), kecuali disepakati tingkat perlindungan yang lebih luas.
Tabel Perbandingan 11 Incoterms 2020
Tabel berikut merangkum lokasi utama penyerahan barang, tanggung jawab transportasi, dan kewajiban asuransi agar perbedaan antara aturan lebih mudah dipahami.
Incoterm | Moda | Tanggung Jawab Utama Penjual | Titik Peralihan Risiko |
EXW | Semua moda | Menyediakan barang di lokasi yang disepakati | Saat barang tersedia bagi pembeli sesuai aturan |
FCA | Semua moda | Menyerahkan barang kepada pengangkut yang ditunjuk pembeli; formalitas ekspor | Saat penyerahan sesuai lokasi dan mekanisme FCA |
CPT | Semua moda | Membayar angkutan hingga tujuan yang disepakati | Saat barang diserahkan kepada pengangkut |
CIP | Semua moda | Membayar angkutan dan menyediakan asuransi | Saat barang diserahkan kepada pengangkut |
DAP | Semua moda | Mengirim hingga tujuan, barang siap dibongkar | Saat barang tersedia untuk dibongkar di tujuan |
DPU | Semua moda | Mengirim dan membongkar barang di tujuan | Setelah barang dibongkar di tujuan |
DDP | Semua moda | Mengirim hingga tujuan dan menangani formalitas impor | Saat barang tersedia untuk dibongkar di tujuan |
FAS | Laut/perairan pedalaman | Menyerahkan barang di samping kapal | Saat barang ditempatkan di samping kapal |
FOB | Laut/perairan pedalaman | Menyerahkan barang di atas kapal | Saat barang berada di atas kapal |
CFR | Laut/perairan pedalaman | Membayar angkutan laut hingga pelabuhan tujuan | Saat barang berada di atas kapal di pelabuhan pengapalan |
CIF | Laut/perairan pedalaman | Membayar angkutan laut dan menyediakan asuransi | Saat barang berada di atas kapal di pelabuhan pengapalan |
Perbedaan Biaya dan Risiko dalam Incoterms
Salah satu hal terpenting dalam memahami Incoterms adalah bahwa pihak yang membayar transportasi belum tentu menjadi pihak yang menanggung risiko barang selama perjalanan.
1. Perbedaan pada Aturan C
Pada CPT, CIP, CFR, dan CIF, penjual membayar transportasi hingga tujuan tertentu, tetapi risiko beralih lebih awal ketika penyerahan yang ditentukan aturan telah terjadi. Karena itu, pembeli perlu memahami titik penyerahan dan mempertimbangkan perlindungan asuransi yang sesuai.
2. Perbedaan pada Aturan D
Pada DAP, DPU, dan DDP, penjual menanggung biaya dan risiko pengiriman hingga lokasi tujuan yang ditentukan, dengan perbedaan penting mengenai pembongkaran serta formalitas impor.
3. Perbedaan pada Aturan F
Pada FCA, FAS, dan FOB, penjual menyerahkan barang pada titik tertentu, sedangkan pembeli umumnya mengatur transportasi utama setelah penyerahan tersebut. Titik dan cara penyerahan berbeda sesuai jenis aturan dan moda transportasi.
4. Perbedaan pada EXW
EXW memberikan kewajiban pengiriman paling terbatas kepada penjual. Pembeli mengatur sebagian besar proses setelah barang tersedia, sehingga kedua pihak perlu mempertimbangkan kemampuan operasional dan kepabeanan sebelum memilihnya.
Cara Memilih Incoterms yang Tepat
Pemilihan Incoterms sebaiknya mempertimbangkan karakteristik barang, moda transportasi, kemampuan logistik, kewajiban kepabeanan, dan tingkat kendali yang diinginkan masing-masing pihak.
1. Tentukan Moda Transportasi
Pastikan aturan yang dipilih sesuai dengan moda pengiriman. Untuk transportasi multimoda, pertimbangkan aturan yang berlaku bagi semua moda; sedangkan FAS, FOB, CFR, dan CIF khusus untuk pengiriman laut atau perairan pedalaman.
2. Tentukan Lokasi Penyerahan
Tulis lokasi atau titik penyerahan secara jelas, misalnya gudang, terminal, atau pelabuhan tertentu. Lokasi yang tidak spesifik dapat menimbulkan ketidakjelasan mengenai tanggung jawab dan peralihan risiko.
3. Evaluasi Kemampuan Mengatur Transportasi
Jika pembeli memiliki jaringan forwarder dan mampu mengendalikan pengiriman, aturan yang memberi pembeli tanggung jawab transportasi utama dapat dipertimbangkan. Jika penjual memiliki akses logistik yang lebih baik, aturan yang memberi penjual tanggung jawab lebih luas mungkin sesuai.
4. Periksa Kebutuhan Asuransi
Tinjau nilai dan karakteristik barang, jalur transportasi, serta risiko pengiriman. Pada CIP dan CIF, penjual memiliki kewajiban asuransi sesuai ketentuan masing-masing, tetapi pembeli tetap perlu menilai apakah cakupan yang tersedia sudah memadai.
5. Periksa Kepabeanan dan Perizinan
Pastikan pihak yang bertanggung jawab mampu menangani formalitas ekspor-impor. Hal ini khususnya penting pada EXW dan DDP karena pembagian tanggung jawab kepabeanan dapat menimbulkan hambatan apabila pihak terkait tidak memiliki kemampuan atau kewenangan yang diperlukan.
6. Cantumkan Edisi dan Lokasi dalam Kontrak
Gunakan format yang menyebutkan Incoterm, lokasi spesifik, dan edisi, seperti DAP Gudang Pembeli, Jakarta, Indonesia, Incoterms 2020. ICC menekankan kejelasan lokasi serta edisi agar tidak terjadi ketidakpastian mengenai ketentuan yang berlaku.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan Incoterms
Kesalahan dalam memilih atau mencantumkan Incoterms dapat menyebabkan pembagian tanggung jawab tidak sesuai dengan kemampuan kedua pihak atau menimbulkan biaya yang tidak diperkirakan.
1. Menganggap Semua Biaya Ditanggung Pihak yang Sama dengan Penanggung Risiko
Pada aturan C, penjual membayar transportasi hingga tujuan, tetapi risiko beralih lebih awal. Perbedaan ini perlu dipahami agar perusahaan tidak salah menentukan kebutuhan asuransi dan tanggung jawab selama perjalanan.
2. Menggunakan FOB untuk Semua Jenis Pengiriman
FOB hanya untuk transportasi laut dan perairan pedalaman. Untuk pengiriman kontainer yang diserahkan ke carrier di terminal sebelum dimuat ke kapal, FCA sering kali lebih tepat dipertimbangkan.
3. Tidak Menentukan Lokasi Penyerahan Secara Jelas
Pencantuman hanya tiga huruf tanpa tempat atau titik yang jelas dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai penyerahan dan peralihan risiko. Lokasi sebaiknya dirinci sesuai kebutuhan transaksi.
4. Tidak Membedakan DAP, DPU, dan DDP
Ketiga aturan mengatur pengiriman ke tujuan, tetapi pembagian tanggung jawab berbeda. DAP mengharuskan barang tersedia untuk dibongkar, DPU mengharuskan penjual membongkar, sedangkan DDP juga menempatkan formalitas impor pada penjual.
5. Menganggap Incoterms Mengatur Kepemilikan dan Pembayaran
Incoterms tidak menentukan kapan kepemilikan barang berpindah atau kapan pembayaran harus dilakukan. Kedua hal tersebut perlu disepakati secara terpisah dalam kontrak komersial.
Kesimpulan
Incoterms merupakan seperangkat aturan perdagangan yang menjelaskan pembagian kewajiban, biaya, dan risiko antara penjual dan pembeli dalam transaksi barang. Incoterms 2020 memiliki 11 aturan yang dibagi menjadi kelompok untuk semua moda transportasi dan kelompok khusus untuk transportasi laut atau perairan pedalaman.
Perbedaan utama antara aturan terletak pada lokasi penyerahan, titik peralihan risiko, tanggung jawab transportasi, formalitas kepabeanan, pembongkaran, dan kewajiban asuransi. Karena itu, pemilihan Incoterms perlu mempertimbangkan kebutuhan bisnis, kemampuan logistik, dan karakteristik pengiriman.
Setelah mengetahui lebih lengkap mengenai incoterms, perusahaan anda juga perlu untuk menggunakan Sistem Manajemen Transportasi atau Transportation Management System (TMS) yang maksimal. Prieds menghadirkan Prieds TMSĀ untuk memaksimalkan proses transportasi perusahaan anda.
Konsultasikan kebutuhan bisnisĀ dengan tim ahli Prieds untuk mengetahui solusi yang tepat bagi bisnis Anda.








