top of page

OEE Monitoring: Pengertian, Manfaat, Proses dan Cara Optimasi Produksi

5 hari yang lalu
5 menit membaca

Diperbarui: 2 hari yang lalu

Dalam proses manufaktur, mesin yang terus beroperasi belum tentu menghasilkan produksi optimal. Downtime, kecepatan rendah, dan produk cacat dapat mengurangi pemanfaatan kapasitas mesin.


Karena itu, perusahaan membutuhkan OEE Monitoring untuk mengukur efektivitas mesin, mengidentifikasi sumber kehilangan produksi, dan menentukan area perbaikan secara terukur.


Apa Itu OEE Monitoring?

OEE Monitoring adalah proses memantau Overall Equipment Effectiveness (OEE) untuk mengukur efektivitas penggunaan mesin atau peralatan produksi. OEE membantu perusahaan melihat seberapa optimal mesin menghasilkan produk dibandingkan dengan kondisi ideal yang direncanakan.


OEE terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Availability, Performance, dan Quality. Ketiganya menggambarkan aspek yang berbeda dari efektivitas mesin, mulai dari waktu mesin tersedia, kecepatan produksinya, hingga kualitas output yang dihasilkan.


Dengan OEE Monitoring, perusahaan dapat mengetahui efektivitas mesin dan penyebab penurunan performanya. Data ini mendukung maintenance, perbaikan proses, dan continuous improvement. Prieds MESĀ membantu menghubungkan data mesin dengan aktivitas produksi agar pemantauan OEE lebih terstruktur.


Ilustrasi OEE Monitoring
Ilustrasi OEE Monitoring

Manfaat OEE Monitoring

OEE Monitoring dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kehilangan produksi dan meningkatkan efektivitas peralatan secara lebih sistematis, selain itu juga memiliki manfaat lainnya sebagai berikut:


1. Mengetahui Efektivitas Mesin

Monitoring OEE memberikan gambaran mengenai seberapa optimal mesin digunakan dibandingkan dengan kapasitas yang direncanakan. Data ini membantu perusahaan mengevaluasi performa mesin secara lebih objektif.


2. Mengidentifikasi Downtime

Data Availability membantu perusahaan melihat frekuensi dan durasi mesin berhenti. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui mesin atau jenis gangguan yang paling sering menimbulkan kehilangan waktu produksi.


3. Menemukan Performance Loss

OEE Monitoring membantu menunjukkan kondisi ketika mesin beroperasi tetapi tidak mencapai kecepatan standar. Analisis ini dapat mengungkap masalah yang tidak selalu terlihat hanya dari data downtime.


4. Mengurangi Produk Defect

Komponen Quality membantu perusahaan menghubungkan penurunan kualitas dengan mesin, produk, shift, material, atau kondisi proses tertentu. Informasi tersebut mendukung upaya pengurangan reject dan rework.


5. Menentukan Prioritas Maintenance

Data OEE membantu tim maintenance menentukan mesin yang memiliki performa paling rendah atau downtime paling tinggi. Dengan demikian, aktivitas maintenance dapat diprioritaskan berdasarkan data operasional.


6. Meningkatkan Produktivitas

Ketika sumber kehilangan produksi diketahui, perusahaan dapat melakukan perbaikan pada mesin, metode kerja, setup, maupun proses produksi. Hal tersebut dapat meningkatkan output tanpa harus selalu menambah kapasitas baru.


7. Mendukung Continuous Improvement

OEE menyediakan baseline untuk mengukur dampak perbaikan. Setelah tindakan diterapkan, perusahaan dapat membandingkan nilai OEE sebelum dan sesudah perubahan untuk mengetahui efektivitasnya.


Rumus OEE

Secara umum, OEE dihitung dengan mengalikan tiga komponen utama:


OEE = Availability Ɨ Performance Ɨ Quality


Sebagai contoh, sebuah mesin memiliki Availability 90%, Performance 85%, dan Quality 98%. Maka:


OEE = 90% Ɨ 85% Ɨ 98% = 74,97%


Hasil tersebut menunjukkan efektivitas mesin berdasarkan kombinasi waktu operasi, kecepatan produksi, dan kualitas output.


Nilai OEE sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai satu angka. Perusahaan juga perlu melihat masing-masing komponennya untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan performa mesin menurun.


Proses OEE Monitoring

OEE Monitoring membutuhkan proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data secara konsisten agar hasil pengukuran dapat digunakan untuk perbaikan, lebih lengkapnya proses OEE Monitoring meliputi:


1. Menentukan Planned Production Time

Perusahaan menentukan waktu produksi yang direncanakan sebagai dasar pengukuran. Periode tersebut perlu dibedakan dari waktu ketika mesin memang tidak dijadwalkan untuk berproduksi.


2. Mencatat Downtime

Setiap penghentian mesin dicatat berdasarkan waktu dan penyebabnya. Data dapat mencakup breakdown, setup, changeover, material shortage, maupun gangguan operasional lainnya.


3. Mengukur Output Produksi

Perusahaan mencatat jumlah unit yang diproduksi dalam periode tertentu. Data output digunakan untuk membandingkan hasil aktual dengan kapasitas atau kecepatan produksi yang telah ditetapkan.


4. Mencatat Produk Good dan Defect

Jumlah produk yang memenuhi standar kualitas dan jumlah produk defect perlu dicatat secara terpisah. Data tersebut digunakan untuk menghitung komponen Quality.


5. Menghitung OEE

Data Availability, Performance, dan Quality kemudian digunakan untuk menghasilkan nilai OEE. Perhitungan dapat dilakukan per mesin, lini, produk, shift, atau periode tertentu.


6. Menganalisis Penyebab Loss

Nilai OEE digunakan sebagai titik awal untuk mencari penyebab kehilangan produksi. Tim dapat menganalisis downtime, slow cycle, micro stoppage, defect, dan faktor lain yang memengaruhi efektivitas.


7. Menentukan Tindakan Perbaikan

Hasil analisis digunakan untuk menentukan tindakan seperti maintenance, pengurangan setup time, optimasi parameter mesin, perbaikan material handling, maupun peningkatan metode kerja.


8. Memantau Hasil Perbaikan

Setelah perbaikan diterapkan, OEE kembali dipantau untuk melihat perubahan performa. Siklus ini dapat dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari continuous improvement.


Contoh Penerapan OEE Monitoring

Sebuah perusahaan memiliki lini produksi yang beroperasi selama tiga shift. Manajemen menemukan bahwa output aktual sering lebih rendah dari target, meskipun seluruh mesin terlihat aktif sepanjang jam produksi.


Setelah menerapkan OEE Monitoring, perusahaan menemukan bahwa Availability relatif tinggi, tetapi Performance jauh lebih rendah pada shift tertentu. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya slow cycle dan micro stoppage yang sering terjadi pada mesin utama.


Tim produksi kemudian melakukan pemeriksaan kondisi mesin dan menyesuaikan parameter operasional. Pada periode berikutnya, Performance meningkat sehingga nilai OEE keseluruhan juga ikut membaik.


Contoh tersebut menunjukkan bahwa OEE Monitoring membantu perusahaan melihat penyebab penurunan output yang tidak selalu terlihat dari data jumlah produksi saja.


Cara Meningkatkan OEE Monitoring

OEE Monitoring yang baik dapat membuat perusahaan mengetahui efektivitas mesin dan mengetahui apabila terjadi penurunan performa, untuk meningkat OEE Monitoring, perusahaan dapat melakukan beberapa cara sebagai berikut:


1. Otomatiskan Pengumpulan Data

Gunakan mesin, sensor, barcode, RFID, atau perangkat digital untuk mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual. Otomatisasi dapat meningkatkan kecepatan dan konsistensi data.


2. Gunakan Data Real-Time

Monitoring secara real-time membantu tim mengetahui perubahan kondisi mesin lebih cepat. Ketika terjadi downtime atau penurunan speed, tindakan dapat dilakukan tanpa menunggu laporan akhir shift.


3. Standarisasi Kategori Downtime

Gunakan klasifikasi penyebab downtime yang konsisten agar data antar mesin dan shift dapat dibandingkan. Kategori yang jelas juga mempermudah analisis terhadap loss terbesar.


4. Analisis Loss Secara Detail

Jangan berhenti pada nilai OEE. Analisis juga Pareto downtime, performance loss, micro stoppage, dan defect untuk mengetahui area yang memberikan dampak terbesar terhadap produktivitas.


5. Hubungkan OEE dengan KPI Lain

Bandingkan OEE dengan production efficiency, cycle time, defect rate, maintenance performance, maupun output. Pendekatan tersebut memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai performa produksi.


6. Gunakan Hasil untuk Improvement

Setiap penurunan OEE sebaiknya menghasilkan tindakan yang jelas. Perusahaan dapat menentukan PIC, target perbaikan, waktu implementasi, kemudian mengevaluasi hasilnya melalui data OEE berikutnya.


OEE Monitoring dengan Prieds MESĀ 

Prieds MESĀ membantu perusahaan memantau performa produksi melalui berbagai fungsi manufaktur, termasuk OEE Monitoring, Production Planning & Scheduling, Shopfloor Management, Quality Management, dan Traceability.


Data produksi dapat digunakan untuk memantau kondisi mesin, downtime, output, kualitas, dan performa proses. Informasi tersebut membantu perusahaan mengidentifikasi loss serta menentukan area yang membutuhkan perbaikan.


Prieds MESĀ juga dapat terintegrasi dengan WMS, ERP, RFID, dan perangkat operasional sehingga data produksi dapat dikaitkan dengan ketersediaan material, transaksi gudang, dan informasi bisnis. Pendekatan terintegrasi ini membantu perusahaan memperoleh visibilitas proses yang lebih menyeluruh.


Konsultasikan kebutuhan bisnisĀ dengan tim ahli Prieds untuk mengetahui solusi yang tepat bagi bisnis Anda.

Ā 
Ā 
bottom of page